a.
Pengertian
Labioskizis dan Labiopalatoskizis merupakan
deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukkan yang kurang
sempurna semasa perkembangan embrional di mana bibir atas bagian kanan dan
bagian kiri tidak tumbuh bersatu.
Celah bibir dan celah langit-langit
adalah suatu kelainan bawaan yang terjadi pada bibir bagian atas serta
langit-langit lunak dan langit-langit keras mulut. Celah bibir (labioskizis) adalah suatu ketidaksempurnaan pada
penyembuhan bibir bagian atas, yang biasanya berlokasi tepat di bawah hidung. Celah langit-langit (palatoskizis) adalah
suatu saluran abnormal yang melewati langi-langit mulut dan menuju ke saluran
udara di hidung.
Celah bibir dan celah langit-langit
(labiopalatoskizis), bisa terjadi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri.
Keduanya terjadi akibat gagalnya jaringan lunak (struktur tulang maxila dan
premaxila) untuk menyatu selama perkembangan embrio.
b.
Klasifikasi
Jenis belahan pada laboskizis atau
labiopalatoskizis dapat sangat bervariasi, bisa mengenai salah satu bagian atau
semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus, dan apalatum durum,
serta palatum molle.
Berdasarkan lengkap/tidaknya celah
terbentuk
· Unilateral incomplete adalah jika celah sumbing terjadi
hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang ke hidung.
· Unilateral complete adalah jika celah sumbing yang
terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang ke hidung.
· Bilateral complete adalah jika celah sumbing terjadi ke
dua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
c.
Etiologi
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing. Faktor
tersebut antara lain, yaitu :
1. Faktor genetik atau keturunan
Dimana material
genetik dalam kromosom yang mempengaruhi. Dimana dapat terjadi karena mutasi
gen ataupun kelainan kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46
kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromsom 1 s/d 22) dan 1
pasang kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin.
Pada penderita
bibir sumbing terjadi trisomi 13 atau sindroma atau dimana ada 3 untai kromosom
13 pada setiap sel penderita, sehingga jumlah total kromosom pada setiap selnya
adalah 47. Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan
menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak, jantung, dan ginjal. Namun
kelianan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang
lahir.
2. Kurang nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6. Vitamin
C pada waktu hamil, kekurangan asam folat.
3. Radiasi.
4. Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama.
5. Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin
contohnya seperti infeksi Rubella dan sifilis, toxoplasmosis dan klamidia.
6. Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan
kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya kecanduan
alkohol, terapi penitonin.
7. Multi faktoral dan mutasi
genetik.
8. Displasia ektodermal.
