November 12, 2015

Labioskizis, Labiopalatoskizis, dan Atresia Duodeni


LABIOSKIZIS DAN LABIOPALATOSKIZIS









a.      Pengertian
Labioskizis dan Labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukkan yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di mana bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu.
Celah bibir dan celah langit-langit adalah suatu kelainan bawaan yang terjadi pada bibir bagian atas serta langit-langit lunak dan langit-langit keras mulut. Celah bibir (labioskizis) adalah suatu ketidaksempurnaan pada penyembuhan bibir bagian atas, yang biasanya berlokasi tepat di bawah hidung. Celah langit-langit (palatoskizis) adalah suatu saluran abnormal yang melewati langi-langit mulut dan menuju ke saluran udara di hidung.
Celah bibir dan celah langit-langit (labiopalatoskizis), bisa terjadi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. Keduanya terjadi akibat gagalnya jaringan lunak (struktur tulang maxila dan premaxila) untuk menyatu selama perkembangan embrio.

b.      Klasifikasi
Jenis belahan pada laboskizis atau labiopalatoskizis dapat sangat bervariasi, bisa mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus, dan apalatum durum, serta palatum molle.
Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk
·  Unilateral incomplete adalah jika celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang ke hidung.
·  Unilateral complete adalah jika celah sumbing yang terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang ke hidung.
·  Bilateral complete adalah jika celah sumbing terjadi ke dua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.

c.       Etiologi
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing. Faktor tersebut antara lain, yaitu :
1.  Faktor genetik atau keturunan
Dimana material genetik dalam kromosom yang mempengaruhi. Dimana dapat terjadi karena mutasi gen ataupun kelainan kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromsom 1 s/d 22) dan 1 pasang kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin.
Pada penderita bibir sumbing terjadi trisomi 13 atau sindroma atau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita, sehingga jumlah total kromosom pada setiap selnya adalah 47. Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak, jantung, dan ginjal. Namun kelianan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang lahir.
2. Kurang nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6. Vitamin C pada waktu hamil, kekurangan asam folat.
3.  Radiasi.
4.  Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama.
5.  Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi Rubella dan sifilis, toxoplasmosis dan klamidia.
6.  Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol, terapi penitonin.
7.   Multi faktoral dan mutasi genetik.
8.   Displasia ektodermal.