October 28, 2020

Cerita Ini

Cerita ini diketik dalam keadaan hati yang tenang. Sebagai pengingat pembelajaran dari sebuah kisah yang pernah terjadi. Dialami dua insan yang pernah saling menyimpan rasa. Cerita singkat yang ternyata begitu berharga, memberi pembelajaran dalam banyak hal. Penerimaan diri, penetapan hati, dan tentang pasrah kepada Tuhan.

Entah mulai dari mana. Mengurai bagaimana awal cerita rumit ini sepertinya cukup menguras emosi. Ditambah aku yang sudah lama tidak bernarasi. Mungkin akan sulit mencari kata, menyusun kalimat.

Seingatku, semua berawal sejak ulang tahunku yang ke-24. Ucapan selamat darimu ternyata berujung panjang. Berlanjut bertukar kabar dari hari ke hari, bertukar cerita malam ke malam, saling memberi perhatian. Akhirnya memutuskan untuk bertemu pertama kalinya, pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan sampai pada titik sudah tidak ingat untuk menghitungnya.

Pernah, setelah beberapa kali bertemu, rasa nyaman yang kamu beri membuatku khawatir. Bertanya-tanya dalam hati, apa maksud kedatanganmu? Hanya singgahkah atau menetap? Tidak ingin terlalu optimis bahwa kamu bermaksud menetap, tidak ingin terlalu mudah membiarkan hati terluka lagi, dan tidak ingin lagi membuang-buang waktu membiarkan diri terjerumus dosa. Ah, mungkin hanya menganggap teman saja. Teman makan sambil ngobrol. Tapi, hatiku tetap penasaran.

Kamu bercerita, menceritakan kisahmu.

Lalu giliranku bercerita.

Ceritamu dan ceritaku ternyata sama-sama cerita yang baru pernah didengar satu sama lain.

Pernah dengar tidak, katanya dua orang yang sama-sama pernah mempunyai luka akan tahu bagaimana cara mengobati. Aku percaya itu. Dan saat itu, kukira itu awal yang baik. Tapi ternyata penuh lika-liku.. yang belum juga ditemukan jalan keluarnya.